Jumat, 05 Oktober 2007

pulau

Pulau

Ingatkah kau tentang seseorang yang pernah kau hafal garis langkahnya,
lalu kemudian berlalu bersama denyut waktu setelah meninggalkan sebentuk luka di hatimu
dan sesal sungguh serupa musim semi yang ditinggal pergi

dan ketika aku selalu menunggu setelah lukamu olehku
dan ketika aku ingin kau izinkan lagi berpuisi di jantung sejuk-remuk hati, di palung redup-terang hari
dan demi pulau yang tak pernah ku lihat lautnya dimana aku kini merajut-sulam benang kepulangan
Aku datang mengabarimu bahasa hati
Bahasa yang hanya didengar saat ia tak bersuara
Bahasa yang bisa kau baca saat ia ada dalam rasa

Dengan bahasa itulah aku ingin menjemputmu

O, Rindu
Saat kau tahu bahwa hidup adalah angin di subuh waktu yang bergerak cemas, maka aku adalah dinginnya

O, Bening,
Yang ku lihat di anggun bayangmu, izinkan aku pulang ke sana

Batam, Oktober 2007

Jumat, 28 September 2007

jam-jam malam di pulau

Jam-jam malam di pulau
Kirimkan aku segurat senyum dari denting jam-jam malammu, Regina
Dari berhelai-helai waktu yang membalut usiamu
Dari berpetak-petak musim yang menghirup wangi masa mudamu

Senyummu itu yang kusangka punah, masih kusemai di bias basah mendung
Sunyi, yang di tahun itu melambai lemah pada kepergianmu kini telah berbunga cinta

Kusimak selau berarak-arak langkahmu
Menuju rumah yang kau sebut kuasa
Dimana engkau meramu sejuta harapan hari depan
Dari deru mesin-mesin pulau yang beku dan kaku

Ingin kau sudahi airmata tanah asalmu
Di hari suci yang pasi saat kau tatap untuk terakhir kali

Batam, April 2007

Mengeja Bintang
Mengejamu, Bintang
Adalah menapaki sepotong-sepotong cinta yang basah oleh kata

Berbukit-bukit lelah
Telah mendebu dan melebur menjadi sejengkal pelangi di sekuntum senja harapanku
Namun sungguh dalam angin dan hujan yang berhimpun menjadi sesuara
Aku menyannyikan penantian yanga gamang, Bintang

Sedangkan dusun-dusun telah diatap
Masih jua tiris bersenandung sebab hujan pagi-pagi
Sedangkan tahun-tahun tak kuat memikul harap
Masih jua menatap rimis menghitung hari-hari

Dan sungguh sedemikian banyak perang
Telah kurangkai menjadi bait-bait puisi
Sedemikian banyak malam telah kuredam menjadi gumam

Pernah aku ingin hirup saja cahayamu
agar aku ulurkan terang di langit malam kekasihku
Tapi di sini, aku adalah keping sayap kunang-kunang
Dimana cahayaku akan terbakar setiap mataharinya datang di musim bunga

Tapi lihatlah, aku punya segenggam doa yang kusemai dipagi-pagi sunyi
“Tuhan, labuhkanlah penantianku untuk dapat bermain-main cahaya dengan dia yang kujumpai terangnya di sudut hati di suatu hari”

Batam, Februari-Mei 2007